
“Duka” dan “anak-anak” terkesan kontras. Wujud yang pertama begitu gelap, kuat, dan menyakitkan. Yang kedua sebaliknya, lembut, polos, penuh mimpi dan tawa. Apa jadinya jika kedua hal tersebut dipertemukan?
Di novel ini kita akan mengikuti keseharian Jas, gadis cilik berusia sepuluh tahun yang tumbuh di tengah keluarga peternak Belanda konservatif. Tidak ada yang aneh dari keseharian seorang anak kecil yang paling tidak jadwalnya hanya seputar pergi dan pulang sekolah, bermain, membantu orang tua, dan pergi ke gereja. Tapi keseharian Jas menjadi tidak biasa setelah ia kehilangan kakaknya, Matthies, yang tenggelam karena kecelakaan ski di suatu sore yang bersalju. Mulailah kita akan diperlihatkan apa itu duka dari perspektif seorang anak kecil.
Continue reading Melihat Duka melalui Mata Anak-Anak dalam The Discomfort of Evening





