Melihat Duka melalui Mata Anak-Anak dalam The Discomfort of Evening

The Discomfort of Evening english edition published by Faber & Faber (source: goodreads.com)

“Duka” dan “anak-anak” terkesan kontras. Wujud yang pertama begitu gelap, kuat, dan menyakitkan. Yang kedua sebaliknya, lembut, polos, penuh mimpi dan tawa. Apa jadinya jika kedua hal tersebut dipertemukan?

Di novel ini kita akan mengikuti keseharian Jas, gadis cilik berusia sepuluh tahun yang tumbuh di tengah keluarga peternak Belanda konservatif. Tidak ada yang aneh dari keseharian seorang anak kecil yang paling tidak jadwalnya hanya seputar pergi dan pulang sekolah, bermain, membantu orang tua, dan pergi ke gereja. Tapi keseharian Jas menjadi tidak biasa setelah ia kehilangan kakaknya, Matthies, yang tenggelam karena kecelakaan ski di suatu sore yang bersalju. Mulailah kita akan diperlihatkan apa itu duka dari perspektif seorang anak kecil.

Continue reading Melihat Duka melalui Mata Anak-Anak dalam The Discomfort of Evening

Mengenal Jalur Penerbitan Naskah di Penerbit Mayor

Cara menerbitkan naskah adalah pertanyaan yang paling sering diajukan oleh orang-orang kepada editor dan akun sosial media penerbit. Sebetulnya kalau kita rajin, bisa dilihat langsung sih caranya di website penerbit. Pasti ada. Tapi barangkali ada yang belum tahu jenis-jenis alur penerbitan yang berlaku di penerbit mayor, saya coba jelaskan di artikel ini sekalian saya kasih beberapa tip pengiriman naskah juga.

Picture: authorsguild.org

Jadi, penerbit mayor biasanya Continue reading Mengenal Jalur Penerbitan Naskah di Penerbit Mayor

Work in The Time of Corona

“I’ll have plenty of time to rest when I die, but this eventuality is not yet part of my plans.” – Gabriel Garcia Marquez, Love in The Time of Cholera

Di tengah pandemi ini, saya masih bekerja seperti biasa. Kantor saya sebetulnya memberlakukan WFH sejak pertengahan Maret lalu dan saya pun mencoba untuk tidak ke kantor selama jadwal WFH yang ditetapkan. Barangkali hanya ada sepekan-dua pekan, saya sudah merasa tak nyaman bekerja dari dalam kamar.

Image; surveylegend.com

Bukan karena bosan. Demi Tuhan, saya adalah orang yang amat menyukai privasi dan suasana yang sepi. Tetapi apa?

Continue reading Work in The Time of Corona

Perempuan dan Perangkap Sosial dalam Convenience Store Woman oleh Sayaka Murata

Orang banyak mengartikan pendewasaan sebagai momen dibuatnya keputusan-keputusan besar dalam hidup, yang mana keputusan itu dibuat saat seseorang dianggap sudah layak untuk berpartisipasi sebagai bagian dari masyarakat. Apakah kita akan berperan sebagai A, B, atau C? Layaknya soal pilihan ganda, kita disuguhi pilihan jawaban yang sudah dijadikan standar. Bagi kebanyakan orang, soal semacam ini justru mempermudah segala proses, meringankan pikiran karena tak perlu berlarut-larut memikirkan kemungkinan jawaban lainnya. What could go wrong? Kalau pun kita membuat kesalahan, setidaknya kita tahu kemungkinan jawaban lain yang dianggap benar. Tapi bagaimana jika selama ini kita adalah X, Y, atau Z? Pilihan-pilihan yang tak pernah tertulis di luar sana? Saya menemukan gambaran pribadi “unik” ini dalam sosok Keiko yang diciptakan dengan apik oleh Sayaka Murata dalam novelnya: Convenience Store Woman.

Convenience Store Woman English Edition Published by Portobello Books (image: goodreads.com)

Continue reading Perempuan dan Perangkap Sosial dalam Convenience Store Woman oleh Sayaka Murata

Literatour: Beijing International Book Fair #2: Jualan Buku di Negeri China

Tidur delapan jam terasa kurang bagi tubuh saya yang masih belum pulih dari lelah hari sebelumnya. Apa mau dikata, pagi itu saya harus bangun, bersiap-siap. Ini hari pertama pameran. Tidak boleh telat kalau tak mau ditinggal kawan-kawan yang lain. Ini negeri asing, saya hanyalah serupa anak kecil yang tersesat. Tidak tahu apa-apa. Bahkan belum tahu bagaimana caranya membeli tiket kereta dan juga tak hapal rutenya. Jadi, saya terpaksa bangun dengan badan yang terasa amat kaku.

Saya dan teman-teman exhibitor perwakilan penerbit Indonesia di depan gedung NCIEC.

Continue reading Literatour: Beijing International Book Fair #2: Jualan Buku di Negeri China

Literatour: Beijing International Book Fair #1 – Fafa Si Exhibitor Newbie

Suatu siang di bulan Juli yang terik, bos saya tetiba nyeletuk, “Siap-siap, ya. Kamu wakilin kantor ke Beijing.”

Waktu itu saya cuma melongo. Hah?

Saya sewaktu dirugaskan jadi co-exhibitor Beijing International Book Fair 2019.

Saya tahu, suatu saat tugas itu pasti akan datang. Posisi saya memang mengharuskan bekerja dengan partner luar negeri, jadi harusnya saya tak kaget. Tetapi saat perintah itu benar-benar datang, tetap saja saya merasa nervous. Holy shit. What should I do?

Continue reading Literatour: Beijing International Book Fair #1 – Fafa Si Exhibitor Newbie

Editor Akuisisi, Profesi di Penerbitan yang Gak Banyak Orang Tahu

Image: authorsguild.org

Saya suka bingung kalau memperkenalkan diri ke orang-orang. Ketika bilang saya bekerja di penerbitan, orang-orang selalu langsung menebak saya adalah editor. Tidak salah sih, karena profesi saya memang ada embel-embel editornya. Tapi ketika saya sebutkan lengkap saya adalah seorang Editor Akuisisi, orang-orang pada melongo. Editor Akuisisi itu apa? Kerjanya ngapain? Continue reading Editor Akuisisi, Profesi di Penerbitan yang Gak Banyak Orang Tahu

Menikmati Akhir Pekan

Menikmati Akhir Pekan dari buku kumpulan puisi Melihat Api Bekerja oleh Aan Mansyur (foto koleksi pribadi).

Saya bekerja dari hari Senin sampai Jum’at, mulai pukul delapan pagi sampai jam kantor berakhir pukul lima sore. Namun, kenyataannya saya sering pulang telat, antara jam enam sampai jam tujuh malam. Para kolega bilang saya workaholic, padahal mah enggak. Pasalnya selepas jam lima sore yang saya lakukan hanyalah menyortir surel dan dokumen yang belum sempat terbaca hari itu, juga mencatat hal-hal apa yang harus saya kerjakan esok hari. Bonusnya, kadang saya dapat surel jawaban dari klien di luar negeri terkait pekerjaan (yah, karena pas di kita sudah malam, di mereka baru pagi). Jadi, sebetulnya saya tidak ada keharusan lembur, hanya inisiatif beres-beres saja. Ditambah lagi, ketika para kolega pulang dan kantor sudah sepi, konsentrasi saya bisa lebih fokus dan tajam hehe.

Rutinitas tersebut memang tampak membosankan, juga mengkhawatirkan. Makanya banyak kolega di kantor yang sering ngajak saya nongkrong selepas kerja, terutama hari Jum’at. Kadang ada juga yang ajak ke acara tertentu atau agendakan wisata ke suatu tempat di akhir pekan. Tetapi seringnya sih saya tolak. Soalnya, ternyata cara saya menikmati akhir pekan berbeda dengan kawan-kawan lain hehe. Continue reading Menikmati Akhir Pekan

Happy Holden Day! Belajar dari Komitmen Salinger

Pada 16 Juli 1951, akhirnya buku itu terbit. Sebuah karya yang menjadikan penulisnya tokoh sastra berpengaruh, revolusioner, dan wajah baru bagi kesusastraan modern Amerika. Karya itu pula yang menjadikan penulisnya hampir gila, paranoid, anti sosial, mengalami mimpi buruk tiap malam, bahkan membuatnya mengabaikan anak dan istrinya sendiri. Buku yang ditulis oleh J.D Salinger itu, sebuah novel remaja berjudul The Catcher in The Rye, terjual jutaan eksemplar tiap tahunnya dan masih dibaca oleh orang-orang di seluruh dunia hingga saat ini.

salinger_2458416b
source: telegraph.co.uk

Saya membaca The Catcher in The Rye pertama kali dalam versi aslinya yang berbahasa Inggris, meski saat itu tak rampung. Kemudian, saya membaca terjemahan bahasa Indonesianya yang diterbitkan oleh penerbit Banana. Lalu, saya baca kembali versi aslinya hingga tamat. Alih-alih bosan, saya justru makin menyukainya. Continue reading Happy Holden Day! Belajar dari Komitmen Salinger

Dilema Menjadi Manusia Modern

Image: Spiegel Online

Beberapa waktu lalu seorang rekan di kantor menceritakan kunjungannya ke Tiongkok untuk yang pertama kali. Ia menyebutkan segala yang membuatnya tercengang, suatu kemajuan, kebaruan dalam hal-hal yang ia temui yang belum kita miliki di negeri ini. Dengan terkekeh ia mengaku merasa menjadi orang yang paling udik kala itu. Continue reading Dilema Menjadi Manusia Modern